<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Benu &#8211; Bukhae Oe Noni</title>
	<atom:link href="https://bukhaeoenoni.com/author/Benu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bukhaeoenoni.com</link>
	<description>My WordPress Blog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Nov 2025 09:40:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-AU</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>

<image>
	<url>https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/cropped-Elegant-Golden-Emblem-Logo-Edited-Edited-32x32.png</url>
	<title>Benu &#8211; Bukhae Oe Noni</title>
	<link>https://bukhaeoenoni.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kisah Heroik Penyelamatan Le&#8217;u Sonaf Bukhaeoenoni</title>
		<link>https://bukhaeoenoni.com/kisah-heroik-penyelamatan-leu-sonaf-bukhaeoenoni/</link>
					<comments>https://bukhaeoenoni.com/kisah-heroik-penyelamatan-leu-sonaf-bukhaeoenoni/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Benu]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2025 09:39:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[adat]]></category>
		<category><![CDATA[Indigenous people]]></category>
		<category><![CDATA[le'u]]></category>
		<category><![CDATA[sonaf bukhaeoenoni fatubjae]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Leste]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bukhaeoenoni.com/?p=107</guid>

					<description><![CDATA[Suatu malam di akhir Oktober 2025 saya mengunjungi bapak Lusianus Neno Tanesi Abi atau yang dikenal dengan nama Neno Tanesi di rumahnya Bobo Casse, Manamas, Indonesia. Neno Tanesi usianya sudah usur, matanya sudah tidak dapat melihat lagi karena beliau mengalami kebutaan. Neno Tanesi menempati sebuah rumah tua berdinding bebak bersama istrinya, anak perempuannya bernama Elisabeth [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_122" style="width: 410px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-122" class="size-medium wp-image-122" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/IMG_20251020_171301-400x300.jpg" alt="" width="400" height="300" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/IMG_20251020_171301-400x300.jpg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/IMG_20251020_171301-1024x768.jpg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/IMG_20251020_171301-768x576.jpg 768w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><p id="caption-attachment-122" class="wp-caption-text">Neno Tanesi di usia tuanya</p></div>
<p>Suatu malam di akhir Oktober 2025 saya mengunjungi bapak Lusianus Neno Tanesi Abi atau yang dikenal dengan nama Neno Tanesi di rumahnya Bobo Casse, Manamas, Indonesia.</p>
<p>Neno Tanesi usianya sudah usur, matanya sudah tidak dapat melihat lagi karena beliau mengalami kebutaan. Neno Tanesi menempati sebuah rumah tua berdinding bebak bersama istrinya, anak perempuannya bernama Elisabeth Abi dan cucu-cucunya.</p>
<p>Meskipun sudah tidak dapat melihat lagi, ingatan Neno Tanesi terhadap peristiwa mereka ambil <em>le&#8217;u </em>dari Fatubijae masih kuat. Bahkan dia menuturkan bahwa ingatan itu segar, seperti baru terjadi kemarin.</p>
<p>Malam itu, ia mengingat semua kejadian yang telah terjadi 26 tahun yang lalu, ketika dia bersama adiknya Bobo Benu (Yosef Elu Bobo) menjemput <em>le&#8217;u </em>dari Fatubijae. Pada bulan September 1999, Neno Tanesi dan adiknya Bobo Benu pergi ke Fatubijae atas <em>nitusae </em>yang dialami oleh mama mereka tete Suni. <em>Nitusae </em>adalah sebuah situasi ekstasi yang dialami oleh seseorang dan menurut kepercayaan Atoni Meto, orang yang mengalami <em>nitusae </em>ini  digerakkan oleh roh orang yang sudah meninggal.</p>
<div id="attachment_124" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-124" class="size-medium wp-image-124" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-20.32.31-300x400.jpeg" alt="" width="300" height="400" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-20.32.31-300x400.jpeg 300w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-20.32.31-768x1024.jpeg 768w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-20.32.31.jpeg 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-124" class="wp-caption-text">Yosef Bobo Elu</p></div>
<p>Neno Tanesi berkisah <em>nitusae </em>yang dialami oleh mamanya menyuruh mereka untuk mengambil <em>le&#8217;u </em>di Fatubijae karena peperangan antara pejuang pro-integrasi Indonesia melawan pro-kemerdekaan Timor Leste yang mengakibatkan situasi yang tidak aman. Peperangan ini juga melibatkan Tentara Nasional Indonesia. Banyak keluarga yang dibunuh, rumah dibakar, dijarah dan cendana dicuri dan banyak juga orang yang hilang dan tidak ditemukan hingga saat ini. Neno Tanesi dan Bobo Benu awalnya tidak berani untuk pergi ke Fatubijae, mereka takut. Takut terhadap kelompok pro-integrasi dan TNI dan juga takut kepada pro-kemerdekaan. Tetapi karena didesak terus menerus oleh <em>nitusae </em>mama mereka, mereka pun memutuskan untuk pergi.</p>
<p>Awalnya Bobo Benu pergi sendiri, Neno Tanesi belum setuju untuk pergi. Akan tetapi setelah adiknya berjalan sekitar 1 km, dia menyusul adiknya tersebut. Dia sayang adiknya. Dia sayang rumah adat. Dia sayang <em>le&#8217;u </em>yang ada di sonaf. Dia tidak mau <em>le&#8217;u </em>yang tersisa dicuri atau diambil oleh salah satu kelompok yang berkonflik.</p>
<p>Neno Tanesi dan Bobo Benu percaya <em>nenek moyang </em>(Abo) dan <em>le&#8217;u</em> yang akan mereka ambil akan menjaga mereka dan akan menjauhkan mereka dari kedua belah pihak pro-integrasi dan pro-kemerdekaan.</p>
<div id="attachment_117" style="width: 410px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-117" class="size-medium wp-image-117" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.39-400x267.jpeg" alt="" width="400" height="267" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.39-400x267.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.39.jpeg 720w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><p id="caption-attachment-117" class="wp-caption-text">Le&#8217;u yang diselamatkan oleh Neno Tanensi dan Bobo Benu</p></div>
<p>Mereka berangkat pagi. Perjalanan mereka mulus, tidak ada kendala. Tiba di Sonaf Fatubijae, tete <em>Le&#8217;u </em>yang jaga sonaf menyampaikan bahwa le&#8217;u  yang mereka hendak ambil disembunyikan di 2 gua berbeda. Bobo Benu menerima <em>muti </em>dari tete Le&#8217;u kemudian mereka menuju gua pertama yang ditempat oleh Luis Metan, Je Bobo dan abo Benu Taeki.</p>
<p>Namun sebelum mereka mengambil <em>le&#8217;u </em>dikedua gua tersebut, mereka dikejar oleh sekelompok orang. Kelompok orang ini dikenal oleh keduanya. Mereka berniat untuk mengambil <em>le&#8217;u </em>dari sonaf. Neno Tanesi lari dan bersembunyi di gua sedangkan Bobo Benu bersembunyi di kuburan yang dikelilingi akar pohon beringin di Sikone.</p>
<p>Orang-orang yang mencari tidak menemukan mereka. Tetapi mereka tidak pulang. Mereka berjaga-jaga, jika Neno Tanesi dan Bobo Benu keluar maka mereka akan menangkap mereka. Setelah dirasa aman, Bobo Benu keluar dari kuburan dan menuju ke gua setelah diberi tanda oleh abo Benu Taeki. Malam itu, abo Benu Taeki membunuh seekor sapi untuk mereka tetapi mereka merasa malam itu tidak enak untuk makan.</p>
<div id="attachment_108" style="width: 410px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-108" class="size-medium wp-image-108" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.46-400x267.jpeg" alt="" width="400" height="267" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.46-400x267.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.46.jpeg 720w" sizes="auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px" /><p id="caption-attachment-108" class="wp-caption-text">Mengembalikan Le&#8217;u Sonaf Bukhaeoenoni ke Fatubijae</p></div>
<p>Subuh Luis Meta, Je Bobo dan abo Taeki Benu melepaskan mereka pergi. Saat mereka pulang ke Manamas, ketika tiba di sebuah anak sungai ada orang pro-kemerdekaan hendak menikan mereka dengan tombak tetapi mereka mengenalnya. Mereka memanggil namanya dan orang itu pun mengenal mereka. Orang itu mengajak mereka makan sirih pinang, tetapi tiba-tiba seekor ayam lari dari arah mereka. Mereka menyadari bahwa sebentar lagi pasti orang yang mencari mereka pasti tiba. Mereka pun memutuskan pergi tanpa makan sirih pinang. Saat mereka sudah agak menjauh terdengar orang ribut-ribut di tempat mereka ditegur. Terdengar orang itu berkata kepada para pencari &#8220;mereka sudah jalan, saya ajak mereka makan sirih pinang tetapi mereka tidak mau.&#8221;</p>
<p>Mereka pun selamat tiba di Manamas dan menyimpan <em>le&#8217;u </em>yang diambil dari Sonaf Fatubijae di rumah Bobo Benu hingga dibuatkan sebuah sonaf pada tahun 2003.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bukhaeoenoni.com/kisah-heroik-penyelamatan-leu-sonaf-bukhaeoenoni/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Membaca Prioritas Anggaran Publik</title>
		<link>https://bukhaeoenoni.com/belajar-membaca-prioritas-anggaran-publik/</link>
					<comments>https://bukhaeoenoni.com/belajar-membaca-prioritas-anggaran-publik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Benu]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2025 00:56:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[OPINI]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan Anggaran]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Tenggara Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Politik ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Public policy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bukhaeoenoni.com/?p=28</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Dominggus Elcid Li, Peneliti IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change) Tidak selamanya program bagus membutuhkan dana besar. Program dengan nilai anggaran kecil, juga mampu menghasilkan dampak besar jika tepat sasaran. Salah satu program sederhana namun ‘berdampak besar’ adalah program pengawasan dan pencegahan perdagangan orang Satgas Anti Human Trafficking yang dibidani oleh Dinas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Dominggus Elcid Li, Peneliti IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change)</em></p>
<p>Tidak selamanya program bagus membutuhkan dana besar. Program dengan nilai anggaran kecil, juga mampu menghasilkan dampak besar jika tepat sasaran. Salah satu program sederhana namun ‘berdampak besar’ adalah program pengawasan dan pencegahan perdagangan orang Satgas Anti Human Trafficking yang dibidani oleh Dinas Koperasi, Ketenagakerjaan, dan Transmigrasi (Kopnakertrans) Provinsi NTT (2017-2019). Program ini merupakan kerjasama Dinas Kopnakertrans dengan dengan TNI AURI, selaku penanggungjawab keamanan Lanud El Tari, Kupang NTT.</p>
<p>Dalam tiga tahun, Satgas Anti Perdagangan Orang berhasil menggagalkan ribuan ‘calon korban’ perdagangan orang. Misalnya, di tahun 2018 Satgas berhasil mencegah 1.364 korban perdagangan orang, dari jumlah ini sebanyak 7% atau 95 orang adalah anak-anak. Di tahun yang sama, Polda NTT memproses 15 kasus hukum yang melibatkan anak-anak. Jumlah kasus yang ditangani Polda NTT jauh lebih sedikit dari jumlah anak korban perdagangan orang tahun itu sebanyak 95 orang yang berhasil dicegah.</p>
<p>Dalam dialog dengan Polda NTT, diketahui bahwa ongkos penanganan kasus perdagangan orang amat minim—jika dibandingkan dengan anggaran untuk kasus Tindak Pidana Korupsi yang dianggarkan per kasus 20 juta rupiah. Sedangkan kasus perdagangan orang meski sudah masuk dalam kategori tindak pidana khusus, masih minim alokasi anggaran. Ini membuat kita tidak bisa berharap banyak di fase penindakan, apalagi jika skalanya adalah lintas provinsi dan lintas negara.</p>
<p><strong>Uang Kecil Dampak Besar</strong><br />
Dalam kalkulasi rupiah, program pengawasan dan pencegahan perdagangan orang yang memanfaatkan dana APBD NTT menelan dana sebesar 0,0021 % dari total APBD NTT tahun 2018. Di tahun 2025, biaya bersepeda keliling NTT memakan APBD sebesar 0,096%. Sedangkan tunjangan anggota DPRD NTT memakan 0,5% dari total APBD NTT.</p>
<p>Dengan angka ini bisa diproyeksikan, dengan penggunaan anggaran yang sama dialokasikan untuk bersepeda keliling, sebanyak 50 pintu keluar bisa dikontrol dalam satu tahun, atau sebanyak 414 titik keluar yang bisa dikontrol jika menggunakan dana tunjangan dewan dalam satu tahun. Sayangnya untuk mengalokasikan anggaran sebesar 0,0001 % dari total APBD NTT tahun 2025 untuk pencegahan perdagangan tidak dilakukan oleh Gubernur NTT maupun DPRD NTT.</p>
<p>Padahal nilai program ini dalam angka rupiah dikatakan kecil karena nilainya di bawah 100 juta rupiah. Dengan satu meja dan dua petugas di bandar udara El Tari, aktivitas kriminal simpul pelaku perdagangan orang bisa ditekan. Jika dikenali, apa yang disebut perdagangan orang itu aslinya bukan sesuatu yang tampak begitu abstrak, tetapi pelaku itu nyata, dikenali, dan dapat dicegah.</p>
<p>Petugas secara khusus dapat mencegah terjadinya perdagangan orang (human trafficking) di titik pemberangkatan. Di bandara, simpul pelaku yang ditemui di lapangan bisa di-identifikasi. Setiap harinya satuan hingga puluhan korban perdagangan orang bisa dicegah keberangkatannya dari Bandar Udara El Tari. Cara ini terbukti cukup efektif.</p>
<p><strong>Perbudakan di Indonesia</strong><br />
Dalam sejarahnya, munculnya gerakan anti perdagangan orang NTT maupun Indonesia secara umum menguat sejak munculnya protes keras praktek pembiaran yang dilakukan Polri terhadap korban perbudakan yang terjadi di Medan, Sumatra Utara di tahun 2014. Dalam kasus ini 2 korban meninggal dari total 26 korban perbudakan asal NTT.</p>
<p>Ketika mereka dipulangkan sebagian besar dalam kondisi malnutrisi karena dikurung tauke rumah produksi sarang burung walet. Sebagian besar korban yang dikurung saat itu ketika pergi masuk dalam kategori anak-anak. Ini ditandai dari pemalsuan sebagian besar identitas kependudukan mereka. Sedangkan ketika dipulangkan, 3 orang masih dalam status anak, dan 1 orang dalam kondisi lumpuh.</p>
<p>Mereka disekap di lantai 3 dan 4 sebuah rumah di Medan selama 2-3 tahun. Meskipun kasus ini ramai diangkat TV Nasional, dan dokumen perkaranya diterima langsung oleh Presiden Joko Widodo (15 Februari 2015), hingga hari ini BAP kasus ini tetap nihil dibuat. Kasus ini hanya menghukum satu orang perekrut lapangan (RL). Polisi yang menangani perkara dan membiarkan tersangka utamanya lolos, malah menjadi pejabat tinggi di Jakarta.</p>
<p><strong>Mengapa program dihentikan?</strong><br />
Secara teknis program pencegahan ini dihentikan karena efisiensi anggaran untuk menalangi bencana Covid-19 sejak Bulan Maret tahun 2020. Namun, setelah 5 tahun berlalu, belum ada tanda program ini akan dihidupkan lagi. Penyebabnya ada beberapa: pertama, minimnya memori institusi atau kelembagaan. Dari pusat hingga daerah kecenderungannya sama, tiap pergantian kepemimpinan di tubuh pemerintah, jejak program pemerintahnya sebelumnya juga hilang. Lembaga pemerintah tak mempunyai sistem ingatan kolektif, untuk memastikan prioritas dan secara ketat mengawal indikator anggaran dan program. Dampak dari tiadanya memori kelembagaan adalah setiap tahun anggaran baru, ingatan kelembagaan kembali ke titik nol.</p>
<p>Kedua, ketiadaan memori kelembagaan membuat literasi pejabat pun menjadi terbatas. Misalnya, diksi yang biasa dipakai pemerintah hanya menyebut ‘korban migrasi non prosedural’. Bahasa administratif semacam ini aslinya menipu, dan hanya menimpakan persoalan kepada korban. Pejabat hanya menyalahkan korban yang dianggap semuanya tidak ikut dan tahu prosedur. Padahal jika mau ditengok seluruh pelayanan administrasi kependudukan di NTT sangat bermasalah, dan jauh dari standar layak.</p>
<p>Buktinya sederhana. Pertama, berdasarkan data BPS NTT, orang yang tidak mempunyai NIK (Nomor Induk Kependudukan) di masing-masing kabupaten sebanyak: TTS (7,34%), Kabupaten Kupang (9,91%), dan Sumba Barat Daya (7,21%). Kalau NIK pun tak ada, mereka tentu sulit tersentuh program jaminan sosial pemerintah. Tanpa NIK, mereka tidak ada (stateless). Tanpa NIK mereka sudah pasti illegal dalam bermigrasi.</p>
<p>Kedua, secara administratif anak-anak yang dikirim sebagai buruh migran tidak mungkin dilindungi dengan ‘strategi kontrol administrasi’, karena mereka pasti tak punya KTP karena belum cukup umur. Padahal angka putus sekolah di NTT cukup tinggi, terbanyak di bangku kelas 2 SMP. Ketika anak-anak ‘masuk jadi migrasi pekerja’, pemalsuan identitas pasti terjadi. Di sini kontrol pintu keluar menjadi sangat dibutuhkan.</p>
<p>Di NTT, dengan memeriksa kemampuan literasi dan numerasi di kelas 3 SD (perwakilan kelas bawah) dan 4 SD (perwakilan kelas atas), kita sudah bisa menerka bahwa anak akan putus sekolah. Berdasarkan riset IRGSC, dalam kondisi sekarang hanya 26% anak SD yang dianggap mampu dan lolos dari jerat putus sekolah.</p>
<p>Saat ini berbicara soal literasi dan numerasi saja tidak cukup, sebab melupakan struktur penggajian para guru honor yang digaji jauh dari layak. Struktur guru honor pun harus dibedah (guru honor komite sekolah, guru honor pemerintah kabupaten, atau guru honor yayasan).</p>
<p>Aslinya forced labour atau kerja paksa sedang dipraktekan oleh pemerintah. Isu ini perlu menjadi agenda publik. Misalnya di pedalaman NTT masih kita temui guru yang dibayar 300 ribu per bulan. Tentu angka amat jauh dari tunjangan laundry per bulan Ketua DPRD NTT (15,6%) sekali pun, dan lebih jauh lagi dengan biaya sepeda keliling. Dengan 5 miliar rupiah, sebanyak 140.277 guru dapat mendapatkan tambahan insentif sebesar 300 ribu selama satu tahun.</p>
<p>Tanpa ada terobosan dalam skema penggajian guru, mustahil kita berharap ada perbaikan kinerja para guru. Mustahil kita mendudukan persoalan literasi dan numerasi dengan benar. Dengan trend Pemda di NTT hanya ikut program pusat yang tidak kenal defisit anggaran NTT, kondisi kita semakin terjepit. Sebab SDM yang dihasilkan hanya diposisikan untuk masuk dalam low skilled labour. Tak heran NTT jadi target perdagangan orang.</p>
<p>Jika seluruh program pusat diposisikan seperti membaca ayat kitab suci yang pamali untuk dikritisi, dan orang daerah tidak mau belajar membaca data, maka kekuasaan pemerintahan dan politik hanya dijalankan berdasarkan perasaan semata: sekedar mengejar euforia.</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Kelemahan mendasar dalam penentuan alokasi anggaran publik adalah dominannya aspek kuasa (power) dan kepentingan (interest) para pihak yang terlibat dalam penentuan alokasi program dan anggaran dibandingkan dengan penggunaan data, logika, dan pengetahuan sebagai kompas penentuan prioritas. Tanpa data, dan pengetahuan yang memadai, institusi-institusi negara cenderung bergerak dalam kegelapan (void). Tanpa data, pemerintah perannya tak lebih dari Event Organizer (EO). Peran pemerintah seharusnya lain dari EO.</p>
<p>Di sisi bandara yang lain, di bagian cargo, setiap tahun ratusan orang dipulangkan dalam peti mati ke NTT. Tahun lalu sebanyak 124 peti mati diterima di bandara El Tari. Jika data jenasah yang diterima maupun pencegahan di area bandara dibaca dalam pemahaman ‘analogi gunung es’, bisa dibayangkan berapa jumlah korban perdagangan orang.</p>
<p>Dalam data nasional POLRI, hingga Bulan Juli jumlah korban Tindak Pidana Perdagangan Orang tahun ini sebesar 404 orang. Jumlah ini kurang sepertiga dari jumlah pencegahan yang dibuat di NTT tahun 2018 (1364 korban). Seandainya negara kita bukan negara mafia, yang artinya privatisasi elemen koersif negara tidak dilakukan secara masif, tentu elemen pencegahan dilakukan di setiap titik pemberangkatan.</p>
<p>Pertanyaan finalnya: bagaimana menghadirkan realitas semacam ini kepada para pejabat publik yang realitas hidupnya amat berjarak dari sekian kerentanan warga, dan cenderung lebih fokus pada retorika dan citra? Politik pemerintahan seharusnya tidak diletakan dalam logika perjudian, karena dengan mengambil jarak yang amat jauh dari kaum rentan, para pejabat semakin menjauh dari diskursus keadilan sosial, semakin jauh dari republik, dan semakin jauh dari janji kemerdekaan. Untuk bisa mengawal anggaran publik, butuh sikap politik. Itu yang saat ini teramat kosong, karena para pejabat telah menjadi ‘kelas baru’ (new class), yang realitas hidupnya amat berbeda dengan orang kebanyakan (the commons), apalagi realitas kaum rentan, lebih tidak dikenali lagi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bukhaeoenoni.com/belajar-membaca-prioritas-anggaran-publik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jasintah Sogen diwisuda Master of Education pada the University of Adelaide</title>
		<link>https://bukhaeoenoni.com/jasintah-sogen-diwisuda-master-of-education-pada-the-university-of-adelaide/</link>
					<comments>https://bukhaeoenoni.com/jasintah-sogen-diwisuda-master-of-education-pada-the-university-of-adelaide/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Benu]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2025 00:29:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Adelaide]]></category>
		<category><![CDATA[Atoni Meto]]></category>
		<category><![CDATA[Bobo Casse]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Master of Education]]></category>
		<category><![CDATA[The University of Adelaide]]></category>
		<category><![CDATA[Wisuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bukhaeoenoni.com/?p=25</guid>

					<description><![CDATA[Istri, Jasintah Sogen, diwisuda bersama ratusan wisudawan/wati dari the Faculty of Arts, Business, Law and Economics dan sebagian kecil dari anggota Faculty of Science, Engineering and Technology pada the University of Adelaide. Wisuda ini diterimakan untuk jenjang pendidikan Bachelor Degree, Graduate Diploma, Honor Degree, Master Degree dan Doctoral Degree pada tanggal 23 September 2025 di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Istri, Jasintah Sogen, diwisuda bersama ratusan wisudawan/wati dari the Faculty of Arts, Business, Law and Economics dan sebagian kecil dari anggota Faculty of Science, Engineering and Technology pada the University of Adelaide. Wisuda ini diterimakan untuk jenjang pendidikan Bachelor Degree, Graduate Diploma, Honor Degree, Master Degree dan Doctoral Degree pada tanggal 23 September 2025 di Bonython Hall the University of Adelaide pada jam 10 pagi waktu setempat.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-46" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.17-300x400.jpeg" alt="" width="300" height="400" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.17-300x400.jpeg 300w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.17-768x1024.jpeg 768w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.17-scaled.jpeg 1920w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Wisuda yang dilaksanakan oleh the University of Adelaide berlangsung selama satu pekan, setiap harinya diadakan 2 kali wisuda, yakni pada jam 10 pagi dan jam 2 sore waktu setempat.</p>
<p>Wisudawan/wati jenjang S2 (master degree) dari Master of Education, Jasintah dan kawan-kawannya berjumlah 21 orang. Mayoritas wisudawan/wati adalah pelajar internasional dan hanya sedikit saja yang merupakan pelajar local (Australia).</p>
<div id="attachment_50" style="width: 410px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-50" class="size-medium wp-image-50" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.30.00-400x300.jpeg" alt="" width="400" height="300" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.30.00-400x300.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.30.00-1024x768.jpeg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.30.00-768x576.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px" /><p id="caption-attachment-50" class="wp-caption-text">Bersama anggota keluarga besar Kelurahan Adelaide</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Acaranya sangat sederhana, dimulai dari wisudawan/wati bachelor, graduate, honor dan master masuk duduk duluan di dalam hall, kemudian orangtua atau keluarga masuk dan dilanjutkan dengan perarakan calon doctor menuju panggung kehormatan diiringi musik. Para calon doktor didapuk untuk duduk di atas panggung wisuda.</p>
<div id="attachment_52" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-52" class="size-medium wp-image-52" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.42-300x400.jpeg" alt="" width="300" height="400" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.42-300x400.jpeg 300w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.42-768x1024.jpeg 768w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.42-scaled.jpeg 1920w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-52" class="wp-caption-text">Anthea adalah keluarga local yang sangat dekat dengan kami</p></div>
<p>Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu nasional Autralian Fair dan pidato singkat dari Chancellor, Catherine Branson, AC.SC dan pengakuan Adelaide sebagai tanah milik masyarakat Aborigin dari suku Gadigal.</p>
<p>Acara puncak wisuda diawali dengan penganugerahan Doctor of Honoris Causa (DHC)  kepada Profesor Emiritus Graeme Koehne AO sebagai outstanding composer dan pengajar musik yang berkontribusi untuk dunia, Australi dan Faculty of Arts, Business, Law and Economics the University of Adelaide yang dibacakan oleh Vice Chancellor Professor Peter Hoj Ac.</p>
<div id="attachment_48" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-48" class="size-medium wp-image-48" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.161-300x400.jpeg" alt="" width="300" height="400" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.161-300x400.jpeg 300w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.161-768x1024.jpeg 768w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.161-scaled.jpeg 1920w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-48" class="wp-caption-text">Pak Theo bersama istri</p></div>
<p>Emeritus Professor Graeme Koehne AO sebagai penerima gelar DHC diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato akademiknya yang diawali dengan penampilan musik klasik hasil komposisinya. Dalam pidatonya, beliau berbicara tentang waktu. Sebagai seorang pemusik dia berpikir tentang waktu. Baginya waktu sangat berarti, sangat berharga, waktu adalah uang. Waktu bergerak satu arah. Sangat cepat ketika kita muda.</p>
<div id="attachment_49" style="width: 410px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-49" class="size-medium wp-image-49" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.16-400x300.jpeg" alt="" width="400" height="300" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.16-400x300.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.16-1024x768.jpeg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.16-768x576.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px" /><p id="caption-attachment-49" class="wp-caption-text">Lulu dan anaknya</p></div>
<p>Setiap wisudawan/wisudawati pun mendapatkan kesempatan, mereka diundang tampil ke depan untuk berfoto bersama Chancellor.</p>
<p>Wisuda diakhiri dengan foto bersama teman dan keluarga di sepurataran kampus.</p>
<div id="attachment_47" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-47" class="size-medium wp-image-47" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.18-300x400.jpeg" alt="" width="300" height="400" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.18-300x400.jpeg 300w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.18-768x1024.jpeg 768w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.41.18-scaled.jpeg 1920w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-47" class="wp-caption-text">Foto bersama biar mereka juga ketularan agar cepat wisuda</p></div>
<p>Menghadiri acara wisuda, kami berangkat dari Sydney ke Adelaide pada hari minggu pagi dengan penerbangan jam 6 waktu Sydney dan tiba di Adelaide jam 8 waktu setempat. Kami pun dijemput oleh saudara kami, Nelson Klau. Nelson ini adalah adik semester saya pada Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, tapi saat ini dia sudah menjadi Associate Professor di Torrens University Adelaide dan sudah mendapatkan Permanent Resident dan baru saja membeli sebuah rumah. Kami dijemput ke rumahnya untuk sekalian mengunjungi mereka.Di sana kami disuguhi berbagai makanan dan minuman.</p>
<div id="attachment_54" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-54" class="size-medium wp-image-54" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.30-300x400.jpeg" alt="" width="300" height="400" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.30-300x400.jpeg 300w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.30-768x1024.jpeg 768w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.30-scaled.jpeg 1920w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-54" class="wp-caption-text">Nelson, Ika dan Albert</p></div>
<p>Siangnya kami dijemput oleh Greg Asa. Greg ini adalah teman kuliah saya di Flinders University dan adik jauh juga pada Fakultas Filsafat UNWIRA. Kakanya Romo Delvi Asa adalah teman angkatan saya. Greg sendiri nikah dan sekarang menetap di Adelaide. Dia pun sekarang dalam tahap akhir menyelesaikan thesis doctoralnya pada Torrens University, dan dosen pembimbingnya adalah Ass Prof Nelson Klau Fauk.</p>
<div id="attachment_55" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-55" class="size-medium wp-image-55" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.25-300x400.jpeg" alt="" width="300" height="400" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.25-300x400.jpeg 300w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.25-768x1024.jpeg 768w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.25-scaled.jpeg 1920w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-55" class="wp-caption-text">Goris, Melan, Christian dan Adriel</p></div>
<p>Selama mengikuti acara wisuda di Adelaide kami tinggal di rumahnya Greg di Morphett Valle. Greg antar jemput kami ke mana saja kami mau pergi. Malam setelah wisuda kami kumpul teman-teman Adelaide, yakni Nelson sekeluarga, Goris Suri sekeluarga dan Greg, kami makan bose dan <em>sisi fafi </em>di Morpett Valle.</p>
<div id="attachment_56" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-56" class="size-medium wp-image-56" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.24-300x400.jpeg" alt="" width="300" height="400" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.24-300x400.jpeg 300w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.24-768x1024.jpeg 768w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.24-scaled.jpeg 1920w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-56" class="wp-caption-text">Bersama Greg Asa</p></div>
<p>Terima kasih kepada semua yang sudah mendukung istri saya Jasintah Sogen dalam menyelesaikan kuliahnya pada the University of Adelaide. Terutama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang sudah memberikan beasiswa penuh untuk pendidikan istri tercinta. Terima kasih kepada bapak Thomas sekeluarga di Port Adelaide yang memberikan rumahnya di Woodville Gardens kepada istri untuk ditempati selama 2 tahun. Teman-teman keluarga besar Timor di Adelaide Nelson Klau, Goris Suri, Greg Asa, Oscar Asbanu, ka An dan keluarga masing-masing. Pak Budi di St. Marys sekeluarga, Adi dan Wika, Anthea Mary dan keluarga besar Komunitas Katolik Indonesia (KKI) Adelaide dan Pater Thomas. Teman satu rumah, pak Theo sekeluarga. Teman sekaligus pemilik Heart and Soul Adelaide, Aloy dan Adrian dan juga rekan kerja Lulu dan keluarga kecilnya. Juga tidak lupa teman-teman kuliah istri, Stefani dan kawan-kawannya. Terima kasih sebesar-besarnya juga kepada keluarga besar Bobo Casse, Tafuli, Sogen dan Koten di mana saja berada yang sudah mendukung istri dengan caranya sendiri-sendiri. Dan semua saja yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas doa dan dukungan anda sekalian.</p>
<div id="attachment_51" style="width: 410px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-51" class="size-medium wp-image-51" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.59-400x300.jpeg" alt="" width="400" height="300" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.59-400x300.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.59-1024x768.jpeg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-25-at-08.29.59-768x576.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px" /><p id="caption-attachment-51" class="wp-caption-text">Stefani teman seperjuangan dari Kupang</p></div>
<p>Acara wisuda bisa ditontong pada link berikut ini https://www.youtube.com/watch?app=desktop&amp;v=ckex0PfZboA&amp;feature=youtu.be</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bukhaeoenoni.com/jasintah-sogen-diwisuda-master-of-education-pada-the-university-of-adelaide/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rehap Kuburan Tua Bobo Casse</title>
		<link>https://bukhaeoenoni.com/rehap-kuburan-tua-bobo-casse/</link>
					<comments>https://bukhaeoenoni.com/rehap-kuburan-tua-bobo-casse/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Benu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2025 02:44:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Atoni Meto]]></category>
		<category><![CDATA[Bobo Casse]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Indigenous people]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Oecusse]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Leste]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bukhaeoenoni.com/?p=1</guid>

					<description><![CDATA[Keluarga besar Bobo Casse dari Timor Leste (Oecusse-Ambeno), Dili dan Indonesia (Manamas-Manufonu, Ayotupas, &#38; Kupang) berkumpul di Sikone-Bobo Casse, Timor Leste memperbaiki dan merehab sebanyak 13 kuburan tua yang sudah berusia ratusan tahun. Ini merupakan kesempatan yang sangat langka dan berahmat karena mempertemukan keluarga Bobo Casse setelah terkahir kali bertemu pada tahun 2017. Pertemuan keluarga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Keluarga besar Bobo Casse dari Timor Leste (Oecusse-Ambeno), Dili dan Indonesia (Manamas-Manufonu, Ayotupas, &amp; Kupang) berkumpul di Sikone-Bobo Casse, Timor Leste memperbaiki dan merehab sebanyak 13 kuburan tua yang sudah berusia ratusan tahun.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-33 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1707" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-scaled.jpg 2560w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-400x267.jpg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-1024x683.jpg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-768x512.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></p>
<p>Ini merupakan kesempatan yang sangat langka dan berahmat karena mempertemukan keluarga Bobo Casse setelah terkahir kali bertemu pada tahun 2017. Pertemuan keluarga Bobo Casse ini dirasakan sangat penting oleh keluarga Bobo Casse Indonesia dan Timor Leste karena dapat mempertemukan jalinan persaudaraan yang sudah hampir terputus setelah konflik internal keluarga sejak jaman penjajahan Portuguese. </p>
<p>Keluarga tidak saling mengenal. Bertemu pun mungkin saling menganggap sebagai orang lain, padahal masih satu darah, satu nenek moyang, satu <em>ume le&#8217;u</em> (rumah adat), yakni Sonaf Fatubijae, satu <em>fatu kanaf </em>dan <em>oe</em> <em>kanaf.</em></p>
<p>Kuburan-kuburan yang direhap adalah milik Benu Bana, Taeki Bana, Lasi Bobo, Lasi Bana, Benu Lulan, Ifo Bobo, Taeki Lulan, Katu Bastian, Taeki Bobo, Apoi Bobo dan suaminya Taeki Sonbai, dan Balaib Lasi. Rehap kuburan berlangsung selama kurang lebih seminggu dari tanggal 27 hingga 30 Agustus 2025.</p>
<div id="attachment_34" style="width: 2570px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-34" class="wp-image-34 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-scaled.jpeg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-scaled.jpeg 2560w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-400x300.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-1024x768.jpeg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-768x576.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><p id="caption-attachment-34" class="wp-caption-text">Kuburan ini dibungkus oleh sebuah pohon beringin tua berusia ratusan tahun. Pada kuburan ini terdapat 8 jenazah.</p></div>
<p>Acara rahabilitasi kuburan dihadiri oleh puluhan bahkan ratusan generasi tua dan muda, anak, cucu, cece dan cicit yang merepresentasi keluarga besar Bobo Casse.</p>
<p>Generasi tua yang hadir dari garis keturunan laki-laki Eurico da Costa Bobo (Nuslao), Jose Bobo (Bihala), Alex Bobo (Wini), Paulus Ellu-Bobo (Manamas), Yoseph Bobo (Manufonu), dan istri mendiang almarhum Agus Bobo (Ayotupas). Saudari mereka yang hadir pada saat itu adalah Aluija Bobo (Oebaha), Aludo Bobo (Oecusse), Magdalena Elu (Manufonu), Kornelia Elu (Benus). Generasi muda yang hadir antara lain Yanto Bobo (Kupang), Kuluhun (Marthino Bobo, Nivio Fernandez Bobo, Caetano da Costa Bobo, Jhony Bobo, Luis Bobo (Muti)), Oecusse (Je Bobo (Bolkenat), John Bobo, Luis Bobo (Metan-Sonaf Fatubijae), Edy Bobo), Tony Bobo (Ayotupas) dan Edu Colo (Bolkenat), Manamas (Robert Elu dan Olgi Bobo). Saudari mereka yang hadir adalah Alcina Bobo (Kuluhun), Oecusse (Udis Elu), Manamas (Hana Elu dan Annas Elu),</p>
<p>Hadir juga keturunan dari beberapa fetonaij mnasi seperti Apoi Bobo, para amaf Bobo Casse seperti Mau-Aisnao, Bele-Asa, Besi-Nube dan Sako-Mataus yang terhimpun dalam keluarga besar Bobo Casse di Oeucsse, Buneu, Sikone, dan Fatubijae. Dalam tuturan keluarga besar Bobo Casse di Manamas, mereka tidak mengenal Sako-Mataus tetapi Simao-Antoin. Namun perbedaan ini tidak terlalu mendasar dalam penyebutan amaf-amas Bobo Casse.</p>
<div id="attachment_35" style="width: 1290px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-35" class="wp-image-35 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07.jpeg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07.jpeg 1280w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07-400x300.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07-1024x768.jpeg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07-768x576.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><p id="caption-attachment-35" class="wp-caption-text">Foto ini diambil saat pertemuan keluarga untuk memperkenalkan diri dan keturunan dari nenek/bai.</p></div>
<p>Acara rehap kuburan dimulai dengan ritual <em>fo fatu</em>, dimana semua berkumpul dan berdoa kepada Usi Neno, Usi Pah, bei-naij di kuburuan yang akan direhap untuk memohon penyertaan dan petunjuk mereka dalam kegiatan rehabilitasi kuburan. Doa dipimpin satu orangtua di dahului dengan tuturan adat. Setelah tuturan adat selesai dilakukan penyembelihan ternak. Dilanjutkan dengan melihat <em>nenun. </em>Tujuan dari ritus ini untuk mengetahui apakan kegiatan yang hendak dilakukan mendapat persetujuan dari bei-naij atau tidak. Jika <em>nenun </em>tidak baik maka, keluarga besar akan duduk berdiskusi lagi untuk mencari mengapa <em>nenun </em>tidak baik. Apakah itu karena kesalahan tutur adat atau karena hal yang lain. Saya teringat tahun 2017 saat hendak membawa barang-barang sonaf Fatu Bijae dari Manamas ke Oecusse. Pada saat keluarga besar Dili dan Oecusse sudah datang ke Manamas, terjadi ketidaksetujuan dari beberapa orangtua dan amaf untuk membawa barang-barang sonaf ke Fatu Bijae. Saat mereka tutur dan bunuh hati babi, <em>kuan </em>yang biasa mereka lihat pada hati ternak terbelah dua. Terbelahnya bukan karena tersayat atau terpotong pisau, tetapi secara alami bagian yang disebut <em>kuan </em>membentuk dua bagian. Akhirnya kami bicara baik-baik dengan pihak-pihak yang tidak setuju. Setelah semua sepakat, kami sembelih lagi satu ekor babi dan setelah kami lihat <em>kuan</em> menjadi satu. Kami pun membawa barang-barang itu Kembali ke Fatu Bijae. Kejadian yang sama juga terjadi di Sikone pada tanggal 27 Agustus 2025 siang. Beberapa orangtua melakukan ritus <em>fo fatu</em> tanpa kehadiran keluarga yang lain. Hasilnya pun tidak baik. Akhirnya kami diskusiakan dengan para orangtua dan kami memutuskan untuk membuat ritual baru yang dihadiri oleh semua keluarga yang datang. Dan hasilnya pun baik.</p>
<div id="attachment_38" style="width: 2570px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-38" class="wp-image-38 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1707" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-scaled.jpg 2560w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-400x267.jpg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-1024x683.jpg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-768x512.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><p id="caption-attachment-38" class="wp-caption-text">Setiap keluarga membawa hantaran berupa beras, sopi, sayur, dan sapi/babi/kambing</p></div>
<p>Ritus ini disusul dengan <em>tekes</em>. Pada ritus ini daging dari ternak yang tadinya disembeli yang sudah matang bersama makanan, <em>tua </em>(sopi), dan air dibawa ke kuburan yang akan direhap kemudian didoakan melalui tutur adat. Setelahnya semua anggota keluarga yang hadir mengambil bagian dalam <em>tolas </em>(makan bersama) hingga selesai. Umumnya daging dan nasi/jagung biasanya disimpah dalam bakul anyaman. Semuanya harus dihabiskan. Tidak boleh ada sisa.</p>
<p>Setelah <em>tolas </em>dilaksanakan dilanjutkan dengan pekerjaan rehab kuburan dan makan bersama sesuai jam makan.</p>
<div id="attachment_36" style="width: 2570px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-36" class="wp-image-36 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1707" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-scaled.jpg 2560w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-400x267.jpg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-1024x683.jpg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-768x512.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><p id="caption-attachment-36" class="wp-caption-text">Kuburan sedang dibangun oleh para tukang</p></div>
<p>Selama acara rehap kuburan, semua anggota keluarga Bobo Casse tidur di area pemakaman. Tidak ada yang kembali ke rumahnya. Meskipun mereka yang rumahnya dekat area pekuburan seperti Sikone, Fatu Bijae, Buneu, dll. Semua aktivitas selama 4 hari dipusatkan di pekuburan Sikone dan <em>Oe Kanaf</em> Bobo Casse.</p>
<p>Perkenalan keluarga dilaksanakan pada tanggal 29-30 Agustus 2025. Banyaknya orang yang hadir, mengharuskan acara ini dilaksanakan selama 2 hari. Perkenala ini sangat penting karena sebagian besar yang hadir belum saling mengenal.</p>
<p>Acara puncak dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2025. Sekitar 9 ekor sapi, kambing dan babi yang disembelih tidak terhitung. Acara puncak dilaksanakan dengan tuturan adat dan doa seperti pada acara <em>fo fatu</em>. Dilanjutkan dengan makan Bersama dan membagi daging, beras, minuman berupa sopi, minuman ringan ke semua anggota keluarga yang hadir, tanpa terkecuali.</p>
<div id="attachment_37" style="width: 1290px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-37" class="wp-image-37 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44.jpeg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44.jpeg 1280w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44-400x300.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44-1024x768.jpeg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44-768x576.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><p id="caption-attachment-37" class="wp-caption-text">Hari terakhir daging dan barang dibagikan kepada semua orang yang hadir.</p></div>
<p>Terima kasih kepada keluarga besar Bobo Casse, Oecusse (Fatubijae, Bihala, Sikone, Nuslao, Buneu, Oecusse) yang sudah mempersiakan acara rehab kuburan ini berjalan dengan baik. Terima kasih juga kepada keluarga besar Dili, Manamas-Manufonu, Ayotupas dan Kupang yang sudah datang dan menghadiri peristiwa penting ini. Terima kasih kepada semua keluarga besar, <em>naijuf, fetonaij, amaf-amaf (Mau-Aisnao, Bele-Asa, Besi-Nube, Sako-Mataus. </em></p>
<p>Sampai jumpa di Agustus 2027.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bukhaeoenoni.com/rehap-kuburan-tua-bobo-casse/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
