<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Timor Leste &#8211; Bukhae Oe Noni</title>
	<atom:link href="https://bukhaeoenoni.com/tag/timor-leste/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bukhaeoenoni.com</link>
	<description>My WordPress Blog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Nov 2025 09:40:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-AU</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>

<image>
	<url>https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/cropped-Elegant-Golden-Emblem-Logo-Edited-Edited-32x32.png</url>
	<title>Timor Leste &#8211; Bukhae Oe Noni</title>
	<link>https://bukhaeoenoni.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kisah Heroik Penyelamatan Le&#8217;u Sonaf Bukhaeoenoni</title>
		<link>https://bukhaeoenoni.com/kisah-heroik-penyelamatan-leu-sonaf-bukhaeoenoni/</link>
					<comments>https://bukhaeoenoni.com/kisah-heroik-penyelamatan-leu-sonaf-bukhaeoenoni/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Benu]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2025 09:39:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>
		<category><![CDATA[adat]]></category>
		<category><![CDATA[Indigenous people]]></category>
		<category><![CDATA[le'u]]></category>
		<category><![CDATA[sonaf bukhaeoenoni fatubjae]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Leste]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bukhaeoenoni.com/?p=107</guid>

					<description><![CDATA[Suatu malam di akhir Oktober 2025 saya mengunjungi bapak Lusianus Neno Tanesi Abi atau yang dikenal dengan nama Neno Tanesi di rumahnya Bobo Casse, Manamas, Indonesia. Neno Tanesi usianya sudah usur, matanya sudah tidak dapat melihat lagi karena beliau mengalami kebutaan. Neno Tanesi menempati sebuah rumah tua berdinding bebak bersama istrinya, anak perempuannya bernama Elisabeth [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_122" style="width: 410px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-122" class="size-medium wp-image-122" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/IMG_20251020_171301-400x300.jpg" alt="" width="400" height="300" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/IMG_20251020_171301-400x300.jpg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/IMG_20251020_171301-1024x768.jpg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/IMG_20251020_171301-768x576.jpg 768w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><p id="caption-attachment-122" class="wp-caption-text">Neno Tanesi di usia tuanya</p></div>
<p>Suatu malam di akhir Oktober 2025 saya mengunjungi bapak Lusianus Neno Tanesi Abi atau yang dikenal dengan nama Neno Tanesi di rumahnya Bobo Casse, Manamas, Indonesia.</p>
<p>Neno Tanesi usianya sudah usur, matanya sudah tidak dapat melihat lagi karena beliau mengalami kebutaan. Neno Tanesi menempati sebuah rumah tua berdinding bebak bersama istrinya, anak perempuannya bernama Elisabeth Abi dan cucu-cucunya.</p>
<p>Meskipun sudah tidak dapat melihat lagi, ingatan Neno Tanesi terhadap peristiwa mereka ambil <em>le&#8217;u </em>dari Fatubijae masih kuat. Bahkan dia menuturkan bahwa ingatan itu segar, seperti baru terjadi kemarin.</p>
<p>Malam itu, ia mengingat semua kejadian yang telah terjadi 26 tahun yang lalu, ketika dia bersama adiknya Bobo Benu (Yosef Elu Bobo) menjemput <em>le&#8217;u </em>dari Fatubijae. Pada bulan September 1999, Neno Tanesi dan adiknya Bobo Benu pergi ke Fatubijae atas <em>nitusae </em>yang dialami oleh mama mereka tete Suni. <em>Nitusae </em>adalah sebuah situasi ekstasi yang dialami oleh seseorang dan menurut kepercayaan Atoni Meto, orang yang mengalami <em>nitusae </em>ini  digerakkan oleh roh orang yang sudah meninggal.</p>
<div id="attachment_124" style="width: 310px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-124" class="size-medium wp-image-124" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-20.32.31-300x400.jpeg" alt="" width="300" height="400" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-20.32.31-300x400.jpeg 300w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-20.32.31-768x1024.jpeg 768w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-20.32.31.jpeg 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-124" class="wp-caption-text">Yosef Bobo Elu</p></div>
<p>Neno Tanesi berkisah <em>nitusae </em>yang dialami oleh mamanya menyuruh mereka untuk mengambil <em>le&#8217;u </em>di Fatubijae karena peperangan antara pejuang pro-integrasi Indonesia melawan pro-kemerdekaan Timor Leste yang mengakibatkan situasi yang tidak aman. Peperangan ini juga melibatkan Tentara Nasional Indonesia. Banyak keluarga yang dibunuh, rumah dibakar, dijarah dan cendana dicuri dan banyak juga orang yang hilang dan tidak ditemukan hingga saat ini. Neno Tanesi dan Bobo Benu awalnya tidak berani untuk pergi ke Fatubijae, mereka takut. Takut terhadap kelompok pro-integrasi dan TNI dan juga takut kepada pro-kemerdekaan. Tetapi karena didesak terus menerus oleh <em>nitusae </em>mama mereka, mereka pun memutuskan untuk pergi.</p>
<p>Awalnya Bobo Benu pergi sendiri, Neno Tanesi belum setuju untuk pergi. Akan tetapi setelah adiknya berjalan sekitar 1 km, dia menyusul adiknya tersebut. Dia sayang adiknya. Dia sayang rumah adat. Dia sayang <em>le&#8217;u </em>yang ada di sonaf. Dia tidak mau <em>le&#8217;u </em>yang tersisa dicuri atau diambil oleh salah satu kelompok yang berkonflik.</p>
<p>Neno Tanesi dan Bobo Benu percaya <em>nenek moyang </em>(Abo) dan <em>le&#8217;u</em> yang akan mereka ambil akan menjaga mereka dan akan menjauhkan mereka dari kedua belah pihak pro-integrasi dan pro-kemerdekaan.</p>
<div id="attachment_117" style="width: 410px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-117" class="size-medium wp-image-117" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.39-400x267.jpeg" alt="" width="400" height="267" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.39-400x267.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.39.jpeg 720w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><p id="caption-attachment-117" class="wp-caption-text">Le&#8217;u yang diselamatkan oleh Neno Tanensi dan Bobo Benu</p></div>
<p>Mereka berangkat pagi. Perjalanan mereka mulus, tidak ada kendala. Tiba di Sonaf Fatubijae, tete <em>Le&#8217;u </em>yang jaga sonaf menyampaikan bahwa le&#8217;u  yang mereka hendak ambil disembunyikan di 2 gua berbeda. Bobo Benu menerima <em>muti </em>dari tete Le&#8217;u kemudian mereka menuju gua pertama yang ditempat oleh Luis Metan, Je Bobo dan abo Benu Taeki.</p>
<p>Namun sebelum mereka mengambil <em>le&#8217;u </em>dikedua gua tersebut, mereka dikejar oleh sekelompok orang. Kelompok orang ini dikenal oleh keduanya. Mereka berniat untuk mengambil <em>le&#8217;u </em>dari sonaf. Neno Tanesi lari dan bersembunyi di gua sedangkan Bobo Benu bersembunyi di kuburan yang dikelilingi akar pohon beringin di Sikone.</p>
<p>Orang-orang yang mencari tidak menemukan mereka. Tetapi mereka tidak pulang. Mereka berjaga-jaga, jika Neno Tanesi dan Bobo Benu keluar maka mereka akan menangkap mereka. Setelah dirasa aman, Bobo Benu keluar dari kuburan dan menuju ke gua setelah diberi tanda oleh abo Benu Taeki. Malam itu, abo Benu Taeki membunuh seekor sapi untuk mereka tetapi mereka merasa malam itu tidak enak untuk makan.</p>
<div id="attachment_108" style="width: 410px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-108" class="size-medium wp-image-108" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.46-400x267.jpeg" alt="" width="400" height="267" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.46-400x267.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-05-at-19.40.46.jpeg 720w" sizes="auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px" /><p id="caption-attachment-108" class="wp-caption-text">Mengembalikan Le&#8217;u Sonaf Bukhaeoenoni ke Fatubijae</p></div>
<p>Subuh Luis Meta, Je Bobo dan abo Taeki Benu melepaskan mereka pergi. Saat mereka pulang ke Manamas, ketika tiba di sebuah anak sungai ada orang pro-kemerdekaan hendak menikan mereka dengan tombak tetapi mereka mengenalnya. Mereka memanggil namanya dan orang itu pun mengenal mereka. Orang itu mengajak mereka makan sirih pinang, tetapi tiba-tiba seekor ayam lari dari arah mereka. Mereka menyadari bahwa sebentar lagi pasti orang yang mencari mereka pasti tiba. Mereka pun memutuskan pergi tanpa makan sirih pinang. Saat mereka sudah agak menjauh terdengar orang ribut-ribut di tempat mereka ditegur. Terdengar orang itu berkata kepada para pencari &#8220;mereka sudah jalan, saya ajak mereka makan sirih pinang tetapi mereka tidak mau.&#8221;</p>
<p>Mereka pun selamat tiba di Manamas dan menyimpan <em>le&#8217;u </em>yang diambil dari Sonaf Fatubijae di rumah Bobo Benu hingga dibuatkan sebuah sonaf pada tahun 2003.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bukhaeoenoni.com/kisah-heroik-penyelamatan-leu-sonaf-bukhaeoenoni/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rehap Kuburan Tua Bobo Casse</title>
		<link>https://bukhaeoenoni.com/rehap-kuburan-tua-bobo-casse/</link>
					<comments>https://bukhaeoenoni.com/rehap-kuburan-tua-bobo-casse/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Benu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2025 02:44:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BERITA]]></category>
		<category><![CDATA[Atoni Meto]]></category>
		<category><![CDATA[Bobo Casse]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Indigenous people]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Oecusse]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Leste]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bukhaeoenoni.com/?p=1</guid>

					<description><![CDATA[Keluarga besar Bobo Casse dari Timor Leste (Oecusse-Ambeno), Dili dan Indonesia (Manamas-Manufonu, Ayotupas, &#38; Kupang) berkumpul di Sikone-Bobo Casse, Timor Leste memperbaiki dan merehab sebanyak 13 kuburan tua yang sudah berusia ratusan tahun. Ini merupakan kesempatan yang sangat langka dan berahmat karena mempertemukan keluarga Bobo Casse setelah terkahir kali bertemu pada tahun 2017. Pertemuan keluarga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Keluarga besar Bobo Casse dari Timor Leste (Oecusse-Ambeno), Dili dan Indonesia (Manamas-Manufonu, Ayotupas, &amp; Kupang) berkumpul di Sikone-Bobo Casse, Timor Leste memperbaiki dan merehab sebanyak 13 kuburan tua yang sudah berusia ratusan tahun.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-33 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1707" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-scaled.jpg 2560w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-400x267.jpg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-1024x683.jpg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0799-768x512.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></p>
<p>Ini merupakan kesempatan yang sangat langka dan berahmat karena mempertemukan keluarga Bobo Casse setelah terkahir kali bertemu pada tahun 2017. Pertemuan keluarga Bobo Casse ini dirasakan sangat penting oleh keluarga Bobo Casse Indonesia dan Timor Leste karena dapat mempertemukan jalinan persaudaraan yang sudah hampir terputus setelah konflik internal keluarga sejak jaman penjajahan Portuguese. </p>
<p>Keluarga tidak saling mengenal. Bertemu pun mungkin saling menganggap sebagai orang lain, padahal masih satu darah, satu nenek moyang, satu <em>ume le&#8217;u</em> (rumah adat), yakni Sonaf Fatubijae, satu <em>fatu kanaf </em>dan <em>oe</em> <em>kanaf.</em></p>
<p>Kuburan-kuburan yang direhap adalah milik Benu Bana, Taeki Bana, Lasi Bobo, Lasi Bana, Benu Lulan, Ifo Bobo, Taeki Lulan, Katu Bastian, Taeki Bobo, Apoi Bobo dan suaminya Taeki Sonbai, dan Balaib Lasi. Rehap kuburan berlangsung selama kurang lebih seminggu dari tanggal 27 hingga 30 Agustus 2025.</p>
<div id="attachment_34" style="width: 2570px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-34" class="wp-image-34 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-scaled.jpeg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-scaled.jpeg 2560w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-400x300.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-1024x768.jpeg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.36.28-768x576.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><p id="caption-attachment-34" class="wp-caption-text">Kuburan ini dibungkus oleh sebuah pohon beringin tua berusia ratusan tahun. Pada kuburan ini terdapat 8 jenazah.</p></div>
<p>Acara rahabilitasi kuburan dihadiri oleh puluhan bahkan ratusan generasi tua dan muda, anak, cucu, cece dan cicit yang merepresentasi keluarga besar Bobo Casse.</p>
<p>Generasi tua yang hadir dari garis keturunan laki-laki Eurico da Costa Bobo (Nuslao), Jose Bobo (Bihala), Alex Bobo (Wini), Paulus Ellu-Bobo (Manamas), Yoseph Bobo (Manufonu), dan istri mendiang almarhum Agus Bobo (Ayotupas). Saudari mereka yang hadir pada saat itu adalah Aluija Bobo (Oebaha), Aludo Bobo (Oecusse), Magdalena Elu (Manufonu), Kornelia Elu (Benus). Generasi muda yang hadir antara lain Yanto Bobo (Kupang), Kuluhun (Marthino Bobo, Nivio Fernandez Bobo, Caetano da Costa Bobo, Jhony Bobo, Luis Bobo (Muti)), Oecusse (Je Bobo (Bolkenat), John Bobo, Luis Bobo (Metan-Sonaf Fatubijae), Edy Bobo), Tony Bobo (Ayotupas) dan Edu Colo (Bolkenat), Manamas (Robert Elu dan Olgi Bobo). Saudari mereka yang hadir adalah Alcina Bobo (Kuluhun), Oecusse (Udis Elu), Manamas (Hana Elu dan Annas Elu),</p>
<p>Hadir juga keturunan dari beberapa fetonaij mnasi seperti Apoi Bobo, para amaf Bobo Casse seperti Mau-Aisnao, Bele-Asa, Besi-Nube dan Sako-Mataus yang terhimpun dalam keluarga besar Bobo Casse di Oeucsse, Buneu, Sikone, dan Fatubijae. Dalam tuturan keluarga besar Bobo Casse di Manamas, mereka tidak mengenal Sako-Mataus tetapi Simao-Antoin. Namun perbedaan ini tidak terlalu mendasar dalam penyebutan amaf-amas Bobo Casse.</p>
<div id="attachment_35" style="width: 1290px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-35" class="wp-image-35 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07.jpeg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07.jpeg 1280w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07-400x300.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07-1024x768.jpeg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.39.07-768x576.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><p id="caption-attachment-35" class="wp-caption-text">Foto ini diambil saat pertemuan keluarga untuk memperkenalkan diri dan keturunan dari nenek/bai.</p></div>
<p>Acara rehap kuburan dimulai dengan ritual <em>fo fatu</em>, dimana semua berkumpul dan berdoa kepada Usi Neno, Usi Pah, bei-naij di kuburuan yang akan direhap untuk memohon penyertaan dan petunjuk mereka dalam kegiatan rehabilitasi kuburan. Doa dipimpin satu orangtua di dahului dengan tuturan adat. Setelah tuturan adat selesai dilakukan penyembelihan ternak. Dilanjutkan dengan melihat <em>nenun. </em>Tujuan dari ritus ini untuk mengetahui apakan kegiatan yang hendak dilakukan mendapat persetujuan dari bei-naij atau tidak. Jika <em>nenun </em>tidak baik maka, keluarga besar akan duduk berdiskusi lagi untuk mencari mengapa <em>nenun </em>tidak baik. Apakah itu karena kesalahan tutur adat atau karena hal yang lain. Saya teringat tahun 2017 saat hendak membawa barang-barang sonaf Fatu Bijae dari Manamas ke Oecusse. Pada saat keluarga besar Dili dan Oecusse sudah datang ke Manamas, terjadi ketidaksetujuan dari beberapa orangtua dan amaf untuk membawa barang-barang sonaf ke Fatu Bijae. Saat mereka tutur dan bunuh hati babi, <em>kuan </em>yang biasa mereka lihat pada hati ternak terbelah dua. Terbelahnya bukan karena tersayat atau terpotong pisau, tetapi secara alami bagian yang disebut <em>kuan </em>membentuk dua bagian. Akhirnya kami bicara baik-baik dengan pihak-pihak yang tidak setuju. Setelah semua sepakat, kami sembelih lagi satu ekor babi dan setelah kami lihat <em>kuan</em> menjadi satu. Kami pun membawa barang-barang itu Kembali ke Fatu Bijae. Kejadian yang sama juga terjadi di Sikone pada tanggal 27 Agustus 2025 siang. Beberapa orangtua melakukan ritus <em>fo fatu</em> tanpa kehadiran keluarga yang lain. Hasilnya pun tidak baik. Akhirnya kami diskusiakan dengan para orangtua dan kami memutuskan untuk membuat ritual baru yang dihadiri oleh semua keluarga yang datang. Dan hasilnya pun baik.</p>
<div id="attachment_38" style="width: 2570px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-38" class="wp-image-38 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1707" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-scaled.jpg 2560w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-400x267.jpg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-1024x683.jpg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0598-768x512.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><p id="caption-attachment-38" class="wp-caption-text">Setiap keluarga membawa hantaran berupa beras, sopi, sayur, dan sapi/babi/kambing</p></div>
<p>Ritus ini disusul dengan <em>tekes</em>. Pada ritus ini daging dari ternak yang tadinya disembeli yang sudah matang bersama makanan, <em>tua </em>(sopi), dan air dibawa ke kuburan yang akan direhap kemudian didoakan melalui tutur adat. Setelahnya semua anggota keluarga yang hadir mengambil bagian dalam <em>tolas </em>(makan bersama) hingga selesai. Umumnya daging dan nasi/jagung biasanya disimpah dalam bakul anyaman. Semuanya harus dihabiskan. Tidak boleh ada sisa.</p>
<p>Setelah <em>tolas </em>dilaksanakan dilanjutkan dengan pekerjaan rehab kuburan dan makan bersama sesuai jam makan.</p>
<div id="attachment_36" style="width: 2570px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-36" class="wp-image-36 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1707" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-scaled.jpg 2560w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-400x267.jpg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-1024x683.jpg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/IMG_0702-768x512.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><p id="caption-attachment-36" class="wp-caption-text">Kuburan sedang dibangun oleh para tukang</p></div>
<p>Selama acara rehap kuburan, semua anggota keluarga Bobo Casse tidur di area pemakaman. Tidak ada yang kembali ke rumahnya. Meskipun mereka yang rumahnya dekat area pekuburan seperti Sikone, Fatu Bijae, Buneu, dll. Semua aktivitas selama 4 hari dipusatkan di pekuburan Sikone dan <em>Oe Kanaf</em> Bobo Casse.</p>
<p>Perkenalan keluarga dilaksanakan pada tanggal 29-30 Agustus 2025. Banyaknya orang yang hadir, mengharuskan acara ini dilaksanakan selama 2 hari. Perkenala ini sangat penting karena sebagian besar yang hadir belum saling mengenal.</p>
<p>Acara puncak dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2025. Sekitar 9 ekor sapi, kambing dan babi yang disembelih tidak terhitung. Acara puncak dilaksanakan dengan tuturan adat dan doa seperti pada acara <em>fo fatu</em>. Dilanjutkan dengan makan Bersama dan membagi daging, beras, minuman berupa sopi, minuman ringan ke semua anggota keluarga yang hadir, tanpa terkecuali.</p>
<div id="attachment_37" style="width: 1290px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-37" class="wp-image-37 size-full" src="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44.jpeg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44.jpeg 1280w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44-400x300.jpeg 400w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44-1024x768.jpeg 1024w, https://bukhaeoenoni.com/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-14-at-14.37.44-768x576.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><p id="caption-attachment-37" class="wp-caption-text">Hari terakhir daging dan barang dibagikan kepada semua orang yang hadir.</p></div>
<p>Terima kasih kepada keluarga besar Bobo Casse, Oecusse (Fatubijae, Bihala, Sikone, Nuslao, Buneu, Oecusse) yang sudah mempersiakan acara rehab kuburan ini berjalan dengan baik. Terima kasih juga kepada keluarga besar Dili, Manamas-Manufonu, Ayotupas dan Kupang yang sudah datang dan menghadiri peristiwa penting ini. Terima kasih kepada semua keluarga besar, <em>naijuf, fetonaij, amaf-amaf (Mau-Aisnao, Bele-Asa, Besi-Nube, Sako-Mataus. </em></p>
<p>Sampai jumpa di Agustus 2027.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://bukhaeoenoni.com/rehap-kuburan-tua-bobo-casse/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
